Signed in as:
filler@godaddy.com
Signed in as:
filler@godaddy.com
Kretek adalah karya khas Indonesia. Tanah yang kaya dan subur, iklim tropis, serta pola hujan yang khas, menjadikan Indonesia penghasil tembakau terbaik di dunia. Diawali dari produksi skala kecil hingga kini menjadi produksi massal, perjalanan industri kretek merupakan cerminan sejarah Indonesia.

Kisah kretek dimulai dari kota Kudus yang terletak di Jawa Tengah, Indonesia. Pada tahun 1880, seorang warga lokal bernama Haji Jamhari pertama kali menemukan rokok kretek, yakni perpaduan cengkih dan tembakau yang tumbuh di daerah ini. Dia meracik rokok kretek tersebut untuk meredakan rasa sakit di dadanya.
Diriwayatkan bahwa Haji Jamhari mengidap penyakit asma dan kerap mengoleskan minyak cengkih pada dadanya untuk mengurangi rasa sesak. Dia pun bereksperimen dengan menambahkan cengkih pada rokoknya disertai harapan agar paru-parunya dapat membaik dengan menghirup asapnya.
Pada akhirnya, Haji Jamhari sembuh. Dengan semangat, dia memasarkan penemuannya yang dinamakan ‘kretek’ sebagai obat. Nama ini diambil dari bunyi gemeretak (kemeretek) yang dihasilkan oleh cengkih saat terbakar. Demikianlah kisah lahirnya kretek.
Penemuan tidak disengaja ini ditindaklanjuti oleh Nitisemito, seorang warga Kudus yang melihat sebuah kesempatan. Dia kemudian memanfaatkannya untuk dipasarkan dan memulai produksi massal rokok baru yang unik tersebut. Dengan melakukan hal itu, maka lahirlah cikal bakal industri raksasa dengan cakupan mendunia.
Nitisemito memiliki peran penting dalam mentransformasi keberadaan kretek. Dikenal sebagai Bapak Industri Kretek, Nitisemito meluncurkan merek Bal Tiga disertai dengan kampanye pemasaran inovatif yang belum pernah dilihat oleh masyarakat Indonesia sebelumnya. Pada saat itu, kretek hanyalah produksi rumahan sederhana. Kretek dilinting dengan tangan menggunakan kulit jagung.
Bal Tiga mengalami kebangkrutan pada tahun 1955 karena Perang Dunia Kedua. Meski demikian, praktik produksi yang dirintis oleh Nitisemito telah mengubah skala manufaktur kretek dari industri rumahan menjadi industri produksi modern secara permanen.
Merujuk pada skala industri kretek saat ini, 95 persen produksi cengkih dunia digunakan untuk manufaktur kretek. Meskipun perusahaan Nitisemito yang bernama Bal Tiga telah lama punah, namanya diabadikan sebagai nama jalan di kota Kudus sebagai bukti peninggalannya.
Hingga kini, Kudus tetap menjadi titik fokal industri kretek dengan mempertahankan tradisi manufaktur kretek. Dari sekitar 600 pabrikan kretek di Indonesia, sebagian besar berbasis di Kudus. Djarum sendiri mempekerjakan kurang lebih 60.000 warga Kudus.
Kudus, nama yang diambil dari bahasa Arab, Al-Quds, memiliki arti suci. Selain menjadi lokasi satu-satunya museum kretek di Indonesia, Kudus juga merupakan tempat ziarah umat Islam. Tiap tahunnya ribuan pengunjung memadati Menara Kudus, sebuah monumen yang diasosiasikan dengan Sembilan Wali (Wali Songo), penyebar agama Islam di tanah Jawa.
Meskipun hanya dibungkus klobot atau daun jagung kering, rokok keretek ini telah berhasil memikat perhatian masyarakat setempat. Pada masa itu, rokok keretek dijual per ikat, di mana setiap ikatnya terdiri dari 10 keretek. Semakin lama rokok keretek semakin dikenal. Sepuluh tahun berselang, rokok Keretek ciptaan Djamari berhasil memikat Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Nitisemito memulai bisnis rokoknya pada 1906. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, bisnis rokok milik Nitisemito resmi terdaftar dengan merek Tjap Bal Tiga pada 1908. Selama beroperasi, Nitisemito mampu membangun pabrik besar di atas lahan 6 hektare di Desa Jati, Kudus, Jawa Tengah. Pada zaman itu, sudah berdiri 12 perusahaan rokok besar, 16 perusahaan menengah, dan tujuh pabrik rokok kecil (gurem). Sejarah mencatat Nitisemito mampu mengelola 10.000 pekerja dan memproduksi 10 juta batang rokok per hari pada 1938. Lalu, untuk mengembangkan usahanya, Nitisemito menyewa tenaga pembukuan asal Belanda.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sejarah Keretek di Indonesia", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/stori/read/2023/11/06/170000579/sejarah-keretek-di-indonesia?page=all.
Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6
Anggur Mas
Bojongherang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Indonesia
Industri Manufaktur | Industri Tembakau
Nomor NPPBKC lama :0503.13.5009
Nomor NPPBKC Baru :
07175430305030091 20708701 185
PERIZINAN BERUSAHA BERBASIS RISIKO TINGGI NOMOR INDUK BERUSAHA: 2507230147076
SIINAZ
© 2024 ANGGUR MAS. All rights reserved.
Situs ini hanya diperuntukkan bagi perokok berusia 18+tahun keatas yang tinggal di Indonesia.